
Dian
Desember 4, 2008Ini adalah cerita masa kecilku. Saat aku masih menginjak kelas 3, aku punya seorang teman dekat di kampung halamanku. Dian namanya. orangnya humoris, baik dan menyenangkan.
Seringkali aku diajak olehnya untuk bermain sepeda bersama. Saat itu aku belum punya sepeda jadi aku dibonceng olehnya untuk melihat suasana desa. ke gunung untuk menangkap bermacam-macam binatang yang belum pernah kulihat sebelumnya di kota. Ke sungai-sungai untuk bermain air, menangkap ikan dan kura-kura. Ke lapangan untuk bermain bola, bermain panah-panahan. Saat itu sangat menyenangkan sekali.
Masih teringat nama sepedanya “Cobra” karena setiap kali dia mau menggunakan sepedanya dia selalu memanggil namanya dulu. Hahaha…
Setiap aku bermain bersamanya, belum pernah tidak tertawa. Selalu diiringi dengan tawa dan canda. Benar-benar menyenangkan… Beliau mengajariku banyak hal yang belum pernah diajarkan oleh orang kota sekalipun. Aku terkesan dengan kemampuannya membuat sebuah alat mirip dengan timbangan namun jika di letakan pada ujung tangan alat tersebut akan menyeimbangkan dirinya sendiri. Mirip dengan mainan burung yang mampu menjaga keseimbangannya jika paruhnya diletakkan pada ujung benda. Namun alat yang dia buat benar-benar sederhana, hanya berbahan lidi, plastik, karet dan batu…. Saat itu aku menyadari bahwa orang-orang desa sebetulnya memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan orang kota bahkan mungkin lebih cerdas. Hanya masalah kesempatan saja.
Selain itu, beliau juga mengajarkan aku bagaimana cara memancing berbagai macam ikan karena tiap ikan berbeda cara memancing dan umpannya. Hal yang paling menarik adalah saat aku mencoba memancing tanpa menggunakan umpan tapi ternyata malah dapat ikan kecil di pancinganku…. saat itu kita tertawa bersama.. hahahahahahaha…..
Setiap kali aku ke rumahnya, aku merasa sedih dan kasihan karena rumahnya sangat sangat sederhana, dindingnya sebagian terbuat dari bilik, sebagian terbuat dari tembok namun bagian lantainya hanya lantai tanah, bukan ubin atau keramik. Penerangannya pun sangat sederhana dan secukupnya. Dengan kesangatsederhanaannya, beliau tidak pernah merasa kurang. Tercermin dari sikapnya yang periang….
Sampai suatu ketika, aku datang ke desa lagi, kutanyakan kepada bibiku mengenai Dian. Dan bibiku mengatakan bahwa Dian telah Meninggal karena sakit demam berdarah. Saat itu aku menangis karena kehilangan teman dekatku, teman yang selalu membuatku tertawa, senang dan bahagia. akhirnya aku hanya bisa melayat ke makamnya dan mendoakannya…
Selamat jalan Sahabatku… Terima kasih atas segala yang kau ajarkan kepadaku. Semoga amalmu diterima Allah SWT…